Sidoarjo — Di sebuah ruang kelas di SMAN 1 Taman, tiga siswa duduk berdampingan dengan mata yang masih tampak berbinar. Luna Divanti Zahrotus Syita, Muhammad Abyan Royyan, dan Dikko Valentino Asmara Yuda baru saja menuntaskan perjalanan panjang mereka—dan pulang sebagai Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional ITS 2025.
Kemenangan itu bukan sekadar piala dan uang pembinaan Rp 2 juta. Bagi mereka, kemenangan adalah kisah tentang begadang berhari-hari, revisi yang tak terhitung, dan keyakinan bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.

Luna, yang sejak awal dipercaya menjadi penanggung jawab tim, masih mengingat detik-detik pengumuman lomba.
“Deg-degan sekali. Kami tidak menyangka bisa menang tingkat nasional,” ujar siswi XII-F1 itu sambil tersenyum malu.
Di balik kesuksesan para siswa, ada sosok yang terus berdiri di belakang mereka: para guru dan kepala sekolah. Dewi Nurmalasari, M.Pd, Kepala SMAN 1 Taman, tidak bisa menahan rasa haru saat mendengar kabar kemenangan timnya.
“Setiap kali mereka datang membawa draf baru, semangatnya selalu sama: belajar dan mencoba lagi. Itu yang membuat saya bangga,” katanya.
Namun dukungan terpenting datang dari rumah.
Rudy, ayah Luna, bercerita bahwa putrinya sering pulang larut karena menyelesaikan riset dan paparan.
“Kadang saya melihat Luna kelelahan, tapi matanya selalu berbinar kalau cerita soal penelitiannya,” ujarnya. “Sebagai orang tua, saya hanya bisa memberi doa, dukungan, dan kepercayaan bahwa ia bisa.”
SMAN 1 Taman memang dikenal sebagai sekolah yang memberi ruang besar bagi kreativitas dan riset ilmiah. Fasilitas memadai, bimbingan intensif, dan lingkungan belajar yang sehat membuat sekolah ini menempati posisi tersendiri bagi siswanya. Akreditasinya yang mencapai nilai 92 menjadi bukti komitmen terhadap mutu pendidikan.
Kemenangan tiga siswa ini membawa kebanggaan bagi sekolah, orang tua, bahkan Kabupaten Sidoarjo. Namun bagi mereka sendiri, kemenangan justru menjadi awal dari perjalanan baru.
“Kami ingin terus belajar. Kalau bisa, ikut kompetisi internasional,” kata Abyan dengan penuh optimisme.
Di lorong sekolah tempat mereka biasa berlatih presentasi, kini langkah mereka terasa lebih ringan.
Namun semangat mereka tetap sama: mencoba, bekerja keras, dan terus percaya bahwa mimpi selalu punya jalan.(ulis)