Pasopati.co.id | Gresik –
Tradisi ini adalah salah satu tradisi yang sangat di junjung tinggi oleh masyarakat Gresik setempat, meski saat tradisi ini berlangsung diguyur hujan tidak membuat masyarakat setempat melewatkan tradisi tersebut. Mereka berbondong-bondong untuk berpartisipasi ke acara tradisi malam selawe (malam ke-25 Ramadhan) ini.
Acara ini dipusatkan di kawasan Kebomas pada Sabtu (14/3/2026), melibatkan penutupan jalan, Mulai pukul 16.00 hingga 24.00 WIB di area Jalan Sunan Giri hingga pertigaan Sekarkurung, bazar UMKM kuliner tradisional, pembagian nasi kebuli, kupat keteg, serta dzikir bersama, menjadi warisan budaya religius yang khas untuk berziarah massal ke makam Sunan Giri untuk beriktikaf mencari Lailatul Qadar.

Asal-Usul, zaman Sunan GiriTradisi ini dipelopori oleh Sunan Giri (Syaikh Maulana Ainul Yaqin) saat menyebarkan Islam. Sunan Giri mengajak santri dan masyarakat beriktikaf di Masjid Giri, khususnya di malam ke-25 Ramadan, yang diyakini sebagai malam ganjil potensial turunnya Lailatulqadar.
Makna “Selawe”: Berasal dari bahasa Jawa “selawe” yang berarti dua puluh lima. Maka, Malam Selawe merujuk pada Malam 25 Ramadan.
Puncak Ramadhan, Malam Selawe dianggap sebagai malam puncak Ramadan, di mana ribuan peziarah dari dalam dan luar Gresik memadati kawasan Jalan Sunan Giri hingga ke area makam.
Kegiatan Tradisi, selain ziarah dan iktikaf, masyarakat melakukan salat sunnah, berdzikir, membaca 1000 surat Al-Ikhlas, dan membaca Al-Qur’an secara berjamaah maupun mandiri.
Perkembangan Kini, tradisi ini tidak hanya berpusat pada ibadah, tetapi juga mencakup kegiatan ekonomi dengan adanya ribuan pedagang kaki lima (Pasar Bandeng/Giri Expo) di sepanjang jalan menuju makam Sunan Giri, menjadikannya salah satu ikon budaya Gresik yang paling ramai menjelang Idul Fitri.
(Red)